BRMS

BRMS Optimistis Tingkatkan Produksi Emas Melalui Tiga Proyek Strategis

BRMS Optimistis Tingkatkan Produksi Emas Melalui Tiga Proyek Strategis
BRMS Optimistis Tingkatkan Produksi Emas Melalui Tiga Proyek Strategis

JAKARTA - PT Bumi Resources Minerals Tbk menatap tahun 2026 dengan target produksi emas yang lebih ambisius. 

Perusahaan membidik produksi sekitar 80.000 ounce emas, meningkat dibandingkan estimasi capaian sepanjang 2025. Target ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap keberlanjutan proyek dan prospek bisnis tambang emas perseroan.

Produksi emas BRMS pada 2024 tercatat sebesar 64.000 ounce. Angka ini menjadi pijakan untuk pertumbuhan lebih lanjut pada tahun-tahun berikutnya. Sementara itu, realisasi produksi emas 2025 masih berada dalam proses konsolidasi internal.

Manajemen menyampaikan keyakinan bahwa produksi emas 2025 akan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Optimisme tersebut didasarkan pada kinerja operasional dan pengembangan proyek yang terus berjalan. Target jangka menengah perusahaan pun disusun untuk menjaga tren pertumbuhan yang berkelanjutan.

“Kami optimistis akan terjadi kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Herwin Wahyu Hidayat. Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan manajemen terhadap potensi produksi emas ke depan. Konsolidasi data produksi dilakukan agar capaian akhir dapat mencerminkan kinerja sebenarnya.

Fokus Pengembangan Proyek Utama

Untuk mendukung target produksi emas, BRMS memusatkan perhatian pada tiga proyek utama sepanjang 2026 hingga 2027. Ketiga proyek ini menjadi pilar penting dalam strategi peningkatan kapasitas dan volume produksi. Kelancaran pelaksanaan proyek akan sangat menentukan pencapaian target yang telah ditetapkan.

Proyek pertama adalah penyelesaian konstruksi tambang bawah tanah di Blok 1 Poboya, Palu, Sulawesi Tengah. Tambang ini direncanakan mulai beroperasi pada semester II 2027. Kehadiran tambang bawah tanah tersebut diharapkan memberikan kontribusi produksi yang signifikan.

Tambang bawah tanah Blok 1 Poboya memiliki kadar emas yang relatif tinggi. Kadar emas di area ini mencapai sekitar 4,9 gram per ton. Dengan kualitas tersebut, tambang ini dinilai mampu meningkatkan output emas BRMS secara bertahap.

Pengembangan tambang bawah tanah ini juga menjadi bagian dari strategi efisiensi jangka panjang. Produksi dari tambang berkadar tinggi diharapkan mampu menjaga margin perusahaan. Hal ini sejalan dengan upaya meningkatkan daya saing di industri pertambangan emas.

Ekspansi Kapasitas Pengolahan

Proyek kedua yang menjadi perhatian adalah peningkatan kapasitas pabrik pengolahan emas. BRMS berencana memperluas kapasitas pabrik Carbon in Leach pertama di Poboya. Kapasitas pabrik akan dinaikkan dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari.

Rencana peningkatan kapasitas ini ditargetkan rampung pada kuartal IV 2026. Ekspansi tersebut diharapkan memberikan tambahan volume produksi emas yang berarti. Pabrik ini diproyeksikan menjadi salah satu kontributor utama produksi pada tahun 2026.

Manajemen menilai bahwa peningkatan kapasitas pabrik merupakan langkah strategis. Langkah ini memungkinkan optimalisasi pengolahan bijih yang tersedia. Dengan kapasitas lebih besar, proses produksi dapat berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.

Keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada ketepatan waktu pelaksanaan. Keterlambatan dapat berdampak pada pencapaian target produksi emas. Oleh karena itu, pengawasan dan perencanaan menjadi fokus utama perusahaan.

Program Eksplorasi Gorontalo

Proyek ketiga yang menjadi andalan BRMS adalah pemboran eksplorasi skala besar di Gorontalo. Kegiatan ini dilakukan di tiga prospek utama, yakni Cabang Kiri East, Cabang Kiri North, dan Cabang Kiri South. Eksplorasi ini diarahkan untuk memperkuat cadangan dan sumber daya mineral.

Melalui program eksplorasi tersebut, BRMS berharap menemukan potensi mineral baru. Fokus utama eksplorasi mencakup emas dan tembaga. Hasil eksplorasi diharapkan dapat mendukung pertumbuhan produksi jangka panjang.

Kegiatan pemboran dilakukan secara bertahap dengan skala yang lebih besar. Pendekatan ini bertujuan memperoleh data geologi yang lebih komprehensif. Informasi tersebut akan menjadi dasar pengembangan proyek berikutnya.

Manajemen menilai eksplorasi Gorontalo sebagai investasi strategis. Potensi wilayah ini dinilai menjanjikan untuk pengembangan tambang di masa depan. Keberhasilan eksplorasi akan memperkuat portofolio aset perusahaan.

Dampak Terhadap Produksi Jangka Menengah

Hasil pemboran eksplorasi di Gorontalo direncanakan diumumkan pada semester I 2027. Informasi ini akan menjadi acuan penting bagi strategi pengembangan berikutnya. Manajemen berharap hasil tersebut dapat memberikan gambaran jelas mengenai potensi cadangan baru.

Jika hasil eksplorasi sesuai harapan, BRMS memiliki peluang memperluas basis produksinya. Tambahan cadangan dapat mendukung peningkatan produksi di tahun-tahun mendatang. Hal ini juga membuka peluang pengembangan proyek baru.

Namun, manajemen menyadari adanya risiko jika proyek tidak berjalan sesuai rencana. Keterlambatan atau hambatan teknis dapat memengaruhi target produksi emas. Oleh karena itu, mitigasi risiko menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek.

Prospek dan Tantangan Ke Depan

Target produksi emas 80.000 ounce pada 2026 mencerminkan ambisi pertumbuhan BRMS. Target tersebut bergantung pada keberhasilan tiga proyek utama yang tengah dikembangkan. Konsistensi eksekusi menjadi kunci pencapaian sasaran tersebut.

Perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi dan pengelolaan risiko. Setiap proyek dirancang untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas kinerja perusahaan.

Dengan strategi yang terarah, BRMS optimistis menghadapi tahun-tahun mendatang. Pengembangan tambang, ekspansi pabrik, dan eksplorasi menjadi fondasi utama pertumbuhan. Manajemen percaya langkah ini akan memperkuat posisi BRMS di industri pertambangan emas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index